Sabtu, 23 Januari 2010

Bahaya Virus Playstation Terhadap Kepribadian Anak

Hampir tiap hari anak usia sekolah tak lepas dengan aktifitas bermain. Mereka begitu karena bermain merupakan sarana bagi anak untuk mengembangkan kepribadiannya. banyak aspek-aspek kepribadian yang kemudian dapat dikembangkan lewat dunia bermain. Tidak hanya kepribadian yang berkembang dengan pesat tapi juga potensi lain ikut dikembangkan, seperti ketrampilan motorik dan lainnya. Oleh karena itu tidak heran kalau kemudian mereka menganggap hidup sebagai permainan, sehingga nilai bermain jauh lebih penting bagi anak dari aktifitas lainnya. Bermain bagi anak bagai seminar bagi orang dewasa, mengasikkan dan menyenangkan. Orang kemudian berfikir permainan yang bagaimana yang mampu merangsang dan mengembangkan kepribadian maupun potensi diri anak?
Pertanyaan itulah yang dicoba dijawab orang dewasa dengan menawarkan permainan yang kemudian disebut dengan playsstation. Pada awalnya permainan ini digandrungi karena memberikan nilai repressing, namun belakangan ini telah menjadi fenomena yang memisahkan anak-anak usia sekolah dengan dunia bermain sebenarnya. Alhasil, perkembangan kepribadian dan potensi diri anak terbelenggu. Anak-anak yang biasanya berinteraksi dengan teman-teman sebaya diganti dengan layar monitor. Anak-anak yang biasanya bercucuran keringat karena aktifitas bermain di lapang sepakbola diganti dengan stick. Kesimpulan sementara playsstation telah menggantikan lapang sepak bola dan layar monitor menjadi teman bermain anak-anak. Orang kemudian bertanya, apa hal tersebut berdampak membahayakan perkembangan anak? Jawabnnya tentu saja sangat membahayakan. Buktinya dari sekian orang tua siswa yang berkonsultasi baik yang memiliki anak yang tergolong memiliki IQ cerdas (dari hasil psikotest) maupun yang tergolong di bawah cerdas, semua mengeluhkan kondisi anaknya yang semakin terganggu dengan munculnya kebiasaan malas karena kebiasaan main playsstation. Bahkan dari studi kasus, telah ditemukan anak Sekolah Dasar yang pernah memperoleh juara siswa teladan tingkat kabupaten ketika menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama tidak pernah masuk lima besar. di kelasnya, bahkan nilai raportnya ada di kelompok bawah. Penyebabnya adalah tiap pulang sekolah rajin bermain playsstation. Di rumah tidak ada orang tua, baru ada ketika sore hari karena urusan pekerjaan. Kenapa bisa separah itu pengaruhnya?
Ketika anak bermain playsststion perhatian tertuju pada monitor, semua perasaan dan emosi hanya untuk objek yang ada di monitor. Pada saat seperti itulah anak lupa waktu, lupa kewajiban bahkan ia lupa untuk makan dan minum sehingga kesehatannya akan terganggu. Karena asyik bermain anak akan sulit untuk pindah aktifitas yang lain, seperti; membersihkan diri dan lingkungannya. Karena permainan adalah dunianya maka anak merasa terganggu kalau ada orang di sekitarnya yang mengajak berinteraksi sehingga dapat berakibat munculnya egoisme dengan tidak mau melakukan kontak dengan saudara bahkan orang tuanya. Kondisi tersebut semakin membuat anak terasing dengan dunia sekitarnya. Hal inilah yang pada akhirnya memunculkan sifat malas, kurang sosial, mudah tersinggung, dan senang menyendiri.
Playsstation yang selalu menyajikan permainan yang bertingkat mendorong anak penasaran dan selalu ingin mencoba. Anak tertantang untuk mencapai tingkat tertentu sehingga fikirannya menjadi terikat memikirkan cara untuk mencapainya. Keterikatan fikiran terhadap permainan yang baru dan bertingkat itulah menjadi salah satu penyebab tersedotnya energy psikhis yang seharusnya dapat dipakai secara optimal untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya. Jadi wajar kalau kemudian perhatian anak terhadap aktifitas belajar menjadi berkurang, karena karakteristik belajar itu menuntut berfikir keras sementara energy psikhis telah terpakai sebagian maupun seluruhnya. Hasilnya bisa ditebak prestasi belajarnya tidak optimal atau menurun. Orang tua kemudian kebingunngan karena sulit menghentikan kebiasaan anaknya bermain playsstation. Bagaimana cara mengatasinya? Pertanyaan itu sering kali muncul dalam konsultasi orang tua dengan konselor. Beberapa trik atau langkah-langkah khusus untuk memindahkan dunia bermain maya anak ke dunia bermain sebenarnya telah terbukti dalam studi kasus yang dilakukan konselor selama kurun waktu hampir tiga bulan untuk anak usia Sekolah Menengah Pertama. Sembilan trik atau langkah-langkah mengembalikan anak kepada dunia bermain sebenarnya adalah sebagai berikut:
1. Diskusikan kepada anak tentang akibat baik buruk bagi kesempatan mengembangkan kepribadian dan potensi lainnya. Orang tua tidak mendekte tapi lebih banyak mendengarkan dan mengarahkan dengan pertanyaan dan contoh. Bisa disuguhkan cerita tokoh kepahlawanan, tokoh yang berhasil mengubah dunia, tokoh yang mengalami keterbatsan fisik maupun psikhis dan berhasil mempengaruhi dunia dengan diakhiri melakukan refleksi. Sumber dapat diperoleh lewat internet atau toko buku. Kalau anak sudah bisa menggunakan internet bisa diberikan kepercayaan untuk menemukan sendiri, orang tua cukup memberikan alamat atau situsnya.
2. Berikan kepercayaan kepada anak bahwa bermain dengan teman di lapang terbuka akan mendapatkan keuntungan mengembangkan kepribadian dan potensi lain, seperti; pujian dari teman karena berhasil memasukkan gol ke gawang lawan, sportifitas ketika gawangnya dibobol lawan, kejujuran ketika tangan menyentuh bola dan harus menerima hukuman tendangan bebas dari lawan, pokonya banyak hal yang dapat ditunjukkan kepada anak akan manfaat bermain dengan teman di lapang terbuka. hal tersebut tidak didapatkan kalau bermain sepak bola atau lainnya di depan monitor.
3. Membuat komitmen bersama orang tua dan anak dengan jadwal yang dibuat anak untuk bermain playsstation secara terbatas seminggu sekali dan terus berkurang sampai seminggu 1 jam pada hari minggu. Berikan kesempatan kepada anak untuk menambah jam bila bisa bangun sebelum subuh untuk ikut sholat sunah tahajut. Hukuman terhadap pelanggaran sebaiknya dipilih oleh anak, orang tua cukup memberikan arahan dan penjelasan bahwa hukuman yang diberikan lebih sebagai pengganti, seperti; hukuman dengan membaca AlQuran setelah sholat malam, atau membantu kebersihan di rumah dengan dibarengi orang tua. Keberhasilan pada langkah ke tiga akan lebih cepat bila dibarengi dengan langkah ke empat dan lima.
4. Memindahkan dan menggantikan playsstation dengan aktifitas fisik, seperti; bermain sepeda, sepatu roda, sepak bola, dan olah raga lainnya.
5. Mengajak anak untuk melestarikan permainan tradisional sebagai kebanggaan dan kecintaan terhadap bangsa sendiri. Berikan motivasi agar anak mencintai dan melakukan permainan tradisional sementara orang tua memberikan fasilitas.
6. Jika anak sudah melakukan sampai langkah ke lima, mulailah membuat kesepakatan agar muncul kesadaran pada anak untuk menjauhkan CD playsstation kalau anak memilikinya di rumah. Anak dipersilahkan untuk membuangnya.
7. Hilangkan kecurigaan terhadap anak dan hindari untuk mengatakan “bohong” kepada anak. Biarkan anak mengakui kalau melanggarnya.
8. Bentengi anak dengan menanamkan niat ibadah bahwa semua langkah-langkah yang dilakukan diawasi dua malaikat dan bernilai ibadah yang sholeh.
9. Setiap langkah yang dilakukan oleh anak selalu diberikan evaluasi. Berikan kesempatan kepada anak untuk menunjukkan dan membuktikan perubahan yang didapat, sehingga anak merasakan keberhasilan. Berikan pujian dan hadiah setiap anak berhasil melakukan enam langkah di atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar